Tampilkan postingan dengan label Kampung Naga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampung Naga. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 April 2012

Adat Istiadat Kampung Naga


Adat Istiadat Kampung Naga
Kampung Naga merupakan kampung adat yang menjadi salah satu tempat wisata. Dan pastinya ada beberapa hal yang unik di kampung wisata ini, salah satunya ialah keunikan dalam adat istiadat mereka. Di antaranya seperti upacara-upacara adat yang dilakukan, hal-hal yang ditabukan, tempat-tempat yang ditabukan, adat terhadap waktu sampai religi dan sistem kepercayaan.    
Upacara-Upacara  Adat yang Dilakukan
Upacara-upacara yang senantiasa dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga ialah :
1.      Menyepi
Upacara menyepi dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga pada hari selasa, rabu, dan hari sabtu. Upacara ini menurut pandangan masyarakat Kampung Naga sangat penting dan wajib dilaksanakan, tanpa kecuali baik laki-laki maupun perempuan. Pelaksanaan upacara menyepi diserahkan pada masing-masing orang, karena pada dasarnya merupakan usaha untuk menghindari pembicaraan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan adat istiadat. Warga Kampung Naga sangat patuh terhadap aturan adat. Selain karena penghormatan kepada leluhurnya, juga untuk menjaga amanat dan wasiat yang bila dilanggar dikhawatirkan akan menimbulkan malapetaka.
2.      Hajat Sasih
persiapan upacara adat
Upacara Hajat Sasih dilaksanakan oleh seluruh warga adat Kampung Naga, baik yang bertempat tinggal di Kampung Naga maupun di luar Kampung Naga. Maksud dan tujuan dari upacara ini adalah untuk memohon berkah dan keselamatan kepada leluhur Kampung Naga, Eyang Singaparna serta menyatakan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas segala nikmat yang telah diberikannya kepada warga sebagai umat-Nya.
Upacara Hajat Sasih diselenggarakan pada bulan-bulan dengan tanggal-tanggal sebagai berikut:
  1. Bulan Muharam (Muharram) pada tanggal 26, 27, 28
  2. Bulan Maulud (Rabiul Awal) pada tanggal 12, 13, 14
  3. Bulan Rewah (Sya'ban) pada tanggal 16, 17, 18
  4. Bulan Syawal (Syawal) pada tanggal 14, 15, 16
  5. Bulan Rayagung (Dzulkaidah) pada tanggal 10, 11, 12
Pemilihan tanggal dan bulan untuk pelaksanaan upacara Hajat Sasih sengaja dilakukan bertepatan dengan hari-hari besar agama Islam. Penyesuaian waktu tersebut bertujuan agar keduanya dapat dilaksanakan sekaligus, sehingga ketentuan adat dan akidah agama Islam dapat dijalankan secara harmonis.

Selasa, 17 April 2012

Sistem Kekerabatan Kampung Naga


Sistem Kekerabatan Kampung Naga

A. Pengertian  dan Penjelasan Sistem kekerabatan
Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial. Meyer Fortes mengemukakan bahwa sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan. Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya. Dalam kajian sosiologi-antropologi, ada beberapa macam kelompok kekerabatan dari yang jumlahnya relatif kecil hingga besar seperti keluarga ambilineal, klan, fatri, dan paroh masyarakat. Di masyarakat umum kita juga mengenal kelompok kekerabatan lain seperti keluarga inti, keluarga luas, keluarga bilateral, dan keluarga unilateral.
Hubungan kekerabatan atau kekeluargaan merupakan hubungan antara tiap entitas yang memiliki asal-usul silsilah yang sama, baik melalui keturunan biologis, sosial, maupun budaya. Dalam antropologi, sistem kekerabatan termasuk keturunan dan pernikahan, sementara dalam biologi istilah ini termasuk keturunan dan perkawinan. Hubungan kekerabatan manusia melalui pernikahan umum disebut sebagai "hubungan dekat" ketimbang "keturunan" (juga disebut "konsanguitas"), meskipun kedua hal itu bisa tumpang tindih dalam pernikahan di antara orang-orang yang satu moyang. Hubungan kekeluargaan sebagaimana genealogi budaya dapat ditarik kembali pada Tuhan (lihat mitologi, agama), hewan yang berada dalam daerah atau fenomena alam (seperti pada kisah penciptaan). 
Jadi hubungan kekerabatan adalah salah satu prinsip mendasar untuk mengelompokkan tiap orang ke dalam kelompok sosial, peran, kategori, dan silsilah. Hubungan keluarga dapat dihadirkan secara nyata (ibu, saudara, kakek) atau secara abstrak menurut tingkatan kekerabatan. Sebuah hubungan dapat memiliki syarat relatif (mis., ayah adalah seseorang yang memiliki anak), atau mewakili secara absolut (mis, perbedaan status antara seorang ibu dengan wanita tanpa anak). Tingkatan kekerabatan tidak identik dengan pewarisan maupun suksesi legal. Banyak kode etik yang menganggap bahwa ikatan kekerabatan menciptakan kewajiban di antara orang-orang terkait yang lebih kuat daripada di antara orang asing, seperti bakti anak.

Kamis, 05 April 2012

Sistem Perekonomian Kampung Naga

 
Sistem Perekonomian Kampung Naga
Sebelumnya, saya telah membahas tentang dimensi sosial ekonomi serta interaksi sosial yang ada pada masyarakat Kampung Naga. Selanjutnya, saya akan mencoba menganalisis tentang sistem perekonomian terdapat di dalam Kampung Naga.
Pengertian Sistem Ekonomi
Menurut Dumairy (1996), Sistem Ekonomi adalah suatu sistem yang mengatur serta menjalin hubungan ekonomi antar manusia dengan seperangkat kelembagaan dalam suatu tatanan kehidupan. Selanjutnya, dikatakan pula bahwa suatu sistem ekonomi tidaklah harus berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan falsafah, pandangan dan pola hidup masyarakat dimana ia berpijak. Sistem Ekonomi sesungguhnya merupakan salah satu unsur saja dalam suatu supra sistem kehidupan masyarakat. Sehingga sistem ekonomi merupakan bagian dari kesatuan ideologi masyarakat di suatu negara.
Sistem Perekonomian Kampung Naga
Dari beberapa sistem ekonomi yang ada di dunia, Kampung Naga termasuk daerah yang menganut sistem ekonomi tradisional. Hal itu dapat kita lihat dari ciri-ciri sebagai berikut.
a.       Teknologi yang digunakan masih sangat sederhana
b.      Tidak terdapat pembagian kerja, jikapun ada masih sangat sederhana
c.       Kegiatan ekonomi sepenuhnya diserahkan dan dilaksanakan oleh swasta/masyarakat
d.      Keikutsertaan pemerintah dalam bidang ekonomi dilakukan tidak secara langsung
e.       Kebebasan masyarakat untuk berinovasi dan berimprovisasi diakui dan dihormati

Minggu, 01 April 2012

Interaksi Sosial Masyarakat Kampung Naga


Interaksi Sosial Masyarakat Kampung Naga

                 Perkembangan zaman yang cenderung cepat membawa pengaruh yang luas bagi kehidupan masyarakat. Pergeseran nilai-nilai budaya terjadi di hampir seluruh kawasan, termasuk kawasan Asia, dan terlebih Indonesia. Banyak masyarakat di negeri ini telah meninggalkan warisan budaya nenek moyang, terutama generasi muda yang cenderung lebih condong kepada budaya Barat, dan melupakan nilai-nilai budaya sendiri. Teknologi komunikasi telah menyebabkan arus informasi menjadi kian cepat, dan ini mempercepat perubahan-perubahan dalam masyarakat.
                   Kendati demikian, kemudahan-kemudahan berkomunikasi yang tercipta pada masa sekarang tidak jarang membawa dampak negatif, seperti apabila dalam istilah anak-anak muda disebut sebagai korban mode, yaitu cara berpakaian seseorang yang sebenarnya tidak pantas dikenakan oleh orang tersebut hanya karena ingin mengikuti trend tanpa melihat lingkungan sekitar dan pantas atau tidak seseorang tersebut mengenakannya. Hal demikian terjadi dikarenakan masyarakat belum siap sepenuhnya menerima keadaan yang sangat cepat berubah. Karena ketidakpastian tersebut maka segala bentuk informasi dapat menembus filter.
                   Kecenderungan demikian menarik sekali menyimak kenyataan bahwa di beberapa daerah tertentu di Indonesia terdapat masyarakat yang masih memegang teguh adat istiadat yang telah dianut sejak masa nenek moyang hingga kini, salah satu diantaranya adalah masyarakat Kampung Naga yang terdapat di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.
                    Secara geografis Kampung Naga memiliki wilayah yang tidak terisolir. Letaknya hanya sekitar 500 m dari jalan raya yang menghubungkan kota Tasikmalaya dan Garut. Kampung Naga mempunyai luas keseluruhan kurang lebih 4 ha dan secara administratif adalah bagian dari desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

                    Berada di tengah masyarakat global, masyarakat Kampung Naga pun tetap tidak melupakan dunia luar dan dapat bersikap kooperatif dengan masyarakat umum maupun pemerintah. Mereka dapat menerima kemajuan-kemajuan teknologi asalkan tidak bertentangan dengan hukum adat yang dipegang. Adat yang dipegang teguh banyak mengajarkan kepada kesederhanaan, pelestarian lingkungan dan sifat gotong royong yang masih cukup kental. Ini semua hal-hal yang mulai terkikis ditengah masyarakat umum pada masa sekarang ini. Hal demikian memberikan inspirasi untuk mengkaji lebih jauh bagaimana sebenarnya pola-pola komunikasi masyarakat Kampung Naga yang ada sehingga dapat mempertahankan warisan budaya dalam kurun waktu yang cukup lama. Berikut hasil pengamatan tentang pola interaksi sosial masyarakat Kampung Naga serta wawancara dari beberapa narasumber :

Rabu, 28 Maret 2012

Dimensi Sosial Ekonomi Masyarakat Kampung Naga

Dimensi Sosial Ekonomi Masyarakat Kampung Naga

Di era perekonomian Indonesia yang tengah didominasi oleh pihak swasta dan kaum bermodal serta di tuntutnya masyarakat untuk lebih bergerak aktif lagi dalam berpartisipasi pada perekonomian Negara, Pemerintah, pada dasarnya, melakukan hal tersebut dalam rangka mendorong masyarakat untuk meninggalkan era Masyarakat yang tradisional ke era Masyarakat Industri. Ini ditujukan Pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya yang ada pada masyarakat. Hal seperti ini menarik sekali, menyimak kenyataan bahwa ada beberapa tempat yang dimana sistem perekonomian masyarakatnya tidak terjamah oleh dominasi-dominasi kaum bermodal dan masih sangat mencerminkan masyarakat tahap pra-modern, salah satunya adalah masyarakat Kampung Naga yang terdapat di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Kampung Naga mempunyai luas keseluruhan kurang lebih 4 ha dan secara administratif adalah bagian dari desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Kampung Naga, Wisata Kampung Adat nan Eksotis

Kampung Naga, Wisata Kampung Adat nan Eksotis
Kampung Naga terletak di salah satu Desa Negrasi, Kecamatan Salawi, Kabupaten Tasikmalaya RT 01. Luas wilayah Kampung Naga sekitar 1,5 hektar. Sebelah timur wilayah ini berbatasan dengan Sungai Ciwulan, sebelah barat berbatasan dengan bukit kecil, sebelah utara dan selatan berbatasan dengan saluran kecil. Kampung Naga merupakan wilayah tradisional yang masih mempertahankan tradisinya. Kampung Naga merupakan suatu perkampungan yang dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan leluhurnya. Hal ini akan terlihat jelas perbedaannya bila dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga hidup pada suatu tatanan yang dikondisikan dalam suasana kesahajaan dan lingkungan kearifan .
           Kampung Naga secara administratif berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat. Luas wilayah Kampung Naga sekitar 1,5 hektar. Lokasi Kampung Naga tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung ini berada di lembah yang subur, dengan batas wilayah, di sebelah Barat Kampung Naga dibatasi oleh hutan keramat karena di dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan disebelah utara dan timur dibatasi oleh sungai Ciwulan yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut. Jarak tempuh dari kota Tasikmalaya ke Kampung Naga kurang lebih 30 kilometer, sedangkan dari kota Garut jaraknya 26 kilometer.

Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut-Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah di tembok (Sunda sengked) sampai ketepi sungai Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter. Kemudian melalui jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan sampai kedalam Kampung Naga. Kampung Naga jauh dari keramaian kota.
          Menurut data dari Desa Neglasari, bentuk permukaan tanah di Kampung Naga berupa perbukitan dengan produktivitas tanah bisa dikatakan subur. Luas tanah Kampung Naga yang ada seluas satu hektar setengah, sebagian besar digunakan untuk perumahan, pekarangan, kolam, dan selebihnya digunakan untuk pertanian sawah.