Rabu, 28 Maret 2012

Lingkungan dan Pembangunan


LINGKUNGAN DAN PEMBANGUNAN

PERSOALAN MENDASAR MENGENAI LINGKUNGAN DAN PEMBANGUNAN
Ada tujuh persoalan mendasar yang berkaitan dengan lingkungan dan pembangunan. Ketujuh persoalan itu adalah (1) konsep pembangunan yang berkelanjutan, beserta segenap keterkaitannya dengan masalah-masalah lingkungan hidup; (2) kependudukan dan sumber daya alam; (3) kemiskinan; (4) pertumbuhan ekonomi; (5) pembangunan daerah pedesaan; (6) urbanisasi, serta (7) perekonomian global.

  1. Pembangunan yang Berkelanjutan dan Perhitungan Nilai Lingkungan Hidup
Untuk memperjelas keseimbangan yang diinginkan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan hidup, para ahli lingkungan hidup menggunakan istilah “berkelanjutan” (sustainability) untuk memperjelasnya. Lalu, bagi para ekonom, istilah “berkelanjutan” akan mengacu pada pertumbuhan ekonomi dan kualitas kehidupan manusia di masa mendatang. Oleh karena itu, belum lama ini, para ekonom, terutama para perencana pembangunan memasukan perhitungan lingkungan ketika merumuskan kebijakan. Sebagai contoh, David Pearce dan Jeremy Warford memasukan modal lingkungan hidup ke dalam penghitungan NNI* mereka. Rumusannya adalah :
                        NNI* = GNI – Dm – Dn
di mana :
                        NNI*    = pendapatan nasional neto berkesinambungan
                        Dm        = depresiasi aset modal manufaktur
                        Dn        = depresiasi modal lingkungan dalam satuan moneter (uang)
                                       tahunan.
Di samping ini, masih banyak rumusan-rumusan perhitungan ekonomi yang melibatkan perhitungan lingkungan. Meski begitu, hal ini tidak cukup untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada sekarang. Karena yang dibutuhkan adalah tindakan nyata dengan perhitungan, strategi dan kebijakan yang memadai guna menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan hidup. Sehingga nantinya akan memberikan pertumbuhan ekonomi dan kualitas lingkungan hidup yang jauh lebih baik daripada sekarang di masa mendatang.

  1. Populasi, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup
Secara umum, kerusakan atau degradasi lingkungan yang terjadi saat ini merupakan implikasi dari kegiatan manusia dalam mengambil sumber daya untuk memenuhi kebutuhannya. Tetapi tidak hanya itu saja, melesatnya laju pertumbuhan penduduk, terutama di negara berkembang juga ikut mendorong terjadinya kerusakan lingkungan. Jika hal ini terus terjadi, tidak hanya kerusakan lingkungan yang akan terjadi, tetapi juga akan timbul ketidakseimbangan antara jumlah manusia dengan sumber daya alam dan lingkungan. Pastinya, sumber daya alam akan menipis seiring bertambahnya jumlah penduduk, dan ini bisa berisiko bagi generasi manusia yang akan datang. Lalu bagaimana cara mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada tersebut? Kemajuan teknologi-lah yang dapat mengatasi hal itu. Meski demikian, teknologi tidak bisa dijadikan sebagai solusi utama dalam menangani masalah ini, sebab perlu diciptakan teknologi yang ramah lingkungan, efisien (dapat menghemat sda), serta tidak menimbulkan polusi yang berlebihan. Selain itu, penurunan jumlah penduduk juga bisa dijadikan sebagai solusi lain, meski hal ini tidaklah mudah. Mengapa demikian? Karena dengan melihat fakta bahwa di negara dunia ketiga, laju pertumbuhan penduduk sangatlah cepat, sehingga menyusutkan sumber daya dengan cepat pula. Dalam kasus negara berkembang, bertambahnya jumlah penduduk akan berimplikasi pada kemiskinan dan kerusakan lingkungan. Sebab para penduduk pasti akan memanfaatkan sumber daya dan lingkungan meski sumber daya atau lingkungan tersebut sudah mencapai batasnya (dalam hal ini dipaksakan, sehingga rusak) guna memenuhi kebutuhannya. Hal ini sangatlah membuat kita sedih dengan melihat fakta tersebut. Seharusnya manusia mendapatkan “kesejahteraannya” tanpa mengorbankan “kesejahteraan” dari sumber daya atau lingkungan tersebut.

  1. Kemiskinan dan Lingkungan Hidup
Selama ini, tingkat kelahiran yang tinggi sering kali disalahkan sebagai penyebab terjadinya kemiskinan. Pada kasus kali ini, kita akan melihat bagaimana tingginya angka kemiskinan menyebabkan kerusakan lingkungan. Di negara dunia ketiga, permasalahan seperti ini merupakan hal yang tidak terbantahkan. Di negara-negara kawasan Afrika, seperti Kenya, Somalia, dll, memanfaatkan sumber daya secara tidak teratur. Dalam hal ini, maksudnya adalah mereka menggunakan sumber daya tanpa memperhatikan kapasitas maksimum yang bisa di dapat dari sumber daya tersebut. Karena hal itu, sumber daya menjadi berkurang secara pesat dan lingkungan pun menjadi rusak. Hal ini disebabkan karena tingginya jumlah penduduk disana, terutama penduduk yang tidak mendapatkan pekerjaan. Seharusnya hal ini tidaklah terjadi, karena proses pembangunan yang kita inginkan adalah proses pembangunan yang tidak merusak lingkungan dan sumber daya. Maka daripada itu, banyak sekali tujuan-tujuan dari agenda lingkungan hidup internasional (international environment agenda) yang relevan dengan tujuan dasar pembangunan, salah satunya yaitu menciptakan pembangunan sembari melestarikan lingkungan.

  1. Pertumbuhan Ekonomi versus Kelestarian Lingkungan Hidup
Di dunia ini, satu hal yang paling diinginkan oleh manusia, pada umumnya, dan para ekonom, pada khususnya, saat ini ialah laju pertumbuhan dan pembangunan ekonomi yang tinggi tanpa kerusakan lingkungan yang lebih parah. Banyak cara sudah di lakukan seperti memakai teknologi yang ramah lingkungan pada proses produksi, menggunakan IPAL (instalasi pengelolaan limbah), dll. Dan ada pula yang namanya “Green GDP”, yang merupakan proses perhitungan GDP dikurangi dengan biaya polusi atau kerusakan lingkungan. Sudah banyak cara atau teori yang diciptakan oleh para ekonom, pada khususnya, seperti hal-hal yang telah disebutkan tadi. Tetapi, pertanyaannya adalah kenapa  kerusakan lingkungan terus bertambah seiring dengan meningkatnya laju pertumbuhan? Jawabnya ialah karena manusia tidak bisa mengontrol pola produksi dan konsumsinya. Misalnya, manusia tidak memperdulikan tipisnya sumber minyak di dunia, dan lebih banyak memakai minyak untuk digunakan dalam pola produksi dan konsumsinya. Jadi, melihat contoh tersebut, yang menjadi persoalan ialah tuntutan manusia untuk memenuhi kebutuhan produksi dan konsumsinya. Tetapi yang pelu diperhatikan juga adalah bagaimana cara mengubah pola konsumsi dan produksi manusia yang merusak lingkungan, sehingga generasi mendatang tidak menanggung beban yang berat dari eksternalitas negatif yang ada pada saat ini.

  1. Pembangunan Daerah Pedesaan dan Lingkungan Hidup
Tidak hanya perkotaan yang perlu dibangun, tetapi merupakan hal penting jika suatu negara (baik negara maju atau negara berkembang) mampu membangun daerah pedesaannya. Sebab melihat fakta yang ada, yaitu pesatnya pertumbuhan penduduk di berbagai negara, pastilah menimbulkan kenaikan pada kebutuhan pangan penduduknya. Khusus negara berkembang, karena penduduknya terlalu banyak, maka dibutuhkan penggunaan, pemanfaatan serta distribusi pada kuantitas sumber daya di sektor pertanian secara efisien, maksimal dan tidak merusak lingkungan (lahan, sumber daya,dll). Salah satu caranya ialah dengan melibatkan kaum wanita sebagai pengelola sumber daya alam di pedesaan sekaligus menjadi pelaksana utama sektor pertanian, sehingga mereka mutlak diintegrasikan ke dalam setiap program pelestarian lingkungan hidup. Disamping itu hal ini juga akan meningkatkan status ekonomi dari kaum wanita. Ada juga cara lain selain mengikutsertakan kaum wanita, yaitu dengan memperkenalkan kepada  para petani metode pertanian yang ramah lingkungan, penggunaan bibit (dalam hal ini input) yang alami, serta menggunakan teknologi yang efisien dan ramah lingkungan juga. Maka, swasembada pangan pun bisa tercapai tanpa mengorbankan sumber daya dan lingkungan hidup.

  1. Pembangunan Perkotaan dan Lingkungan Hidup
Di negara berkembang, implikasi dari migrasi desa-kota ialah pesatnya laju pertumbuhan penduduk yang ada di kota. Lonjakan itu begitu kuat sehingga kebanyakan pemerintah negara berkembang tidak mampu untuk mengatasi tekanan-tekanan tersebut. Tekanan yang dimaksudkan disini ialah persoalan khas seperti keterbatasan air bersih, kurangnya fasilitas sanitasi, atau area hijau untuk menyerap polusi. Efeknya, persoalan yang tidak bisa diselesaikan tadi akan berujung pada parahnya kondisi lingkungan perkotaan dimana keadaannya sudah sangat menyesakkan. Sehingga kondisi-kondisi inilah yang membuat masyarakat kota lebih mudah terserang wabah penyakit. Kepadatan penduduk yang ada di kota juga menimbulkan masalah merebaknya perumahan-perumahan liar dan rusaknya infrastruktur yang nantinya akan berpengaruh kepada investasi di di bidang properti atau perumahan. Pada akhirnya, hal-hal ini bisa membuat laju pembangunan di negara berkembang bisa terhambat.

  1. Lingkungan Hidup Global
Belakangan ini, terungkap bahwa secara kumulatif kerusakan lingkungan hidup yang terjadi saat ini disebabkan oleh negara maju dibandingkan oleh negara berkembang. Realitanya pun terlihat dari hasil KTT Bumi (Earth Summit), Protokol Kyoto atau Protokol Montreal. Hasilnya ialah bahwa negara-negara dunia pertama atau yang lebih dikenal dengan negara maju harus mengurangi kadar karbon dan efek rumah kaca yang ada di negaranya, disamping melestarikan lingkungan hidup. Bagaimana dengan negara berkembang? Meski tidak memberikan andil sebesar negara maju, negara berkembang juga turut mencemari lingkungan hidup. Laju pertumbuhan penduduk dan kemiskinan yang tinggi tanpa disertai kesigapan pemerintah negara berkembang dalam menanggapi hal tersebut, merupakan indikator utama penyebab terjadinya penggunaan sumber daya yang tidak efisien dan kerusakan lingkungan hidup di negara-negara dunia ketiga. Memang, guna mengatasi persoalan yang sedang “booming” ini, sudah banyak cara yang dilakukan baik itu oleh negara maju maupun negara berkembang. Tetapi, kembali lagi ke awal bahwa diperlukan tingkat kesadaran yang tinggi baik dari negara-negara maju maupun negara-negara berkembang untuk meyelaraskan antara pertumbuhan dan pembangunan ekonomi dengan pelestarian lingkungan hidup guna mencapai “kesejahteraan global” baik untuk generasi sekarang maupun mendatang.   

Referensi :
  1. Buku Pembangunan Ekonomi karangan Michael P.Todaro dan Stephen C.Smith edisi kesembilan





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar